Perspective

Look Up, It’s Beautiful

It was 2pm, I was reading Haruki Murakami’s 1Q84 on my laptop, when I ran out of cig. Bagi gue, adalah sebuah pantangan untuk membaca sesuatu tanpa asupan nikotin dengan alasan akan susah fokus (just a made up reason, I know). Karena itu, gue memutuskan untuk pergi ke rumah merangkap warung terdekat yang berjarak sekitar 2 menit dari rumah.

Jam 2 siang mungkin bukan waktu terbaik untuk berjalan kaki mengingat terik matahari di Indonesia cukup untuk membuat kita tersenyum miris sambil meringis. Tapi karena rasa ingin tahu yang cukup tinggi, ditambah tubuh sudah cukup lama dimanja nikotin, akhirnya gue memutuskan untuk jalan ke warung.

Warung tersebut berada di kanan jalan, sementara di kiri jalan terdapat sebuah taman yang dilengkapi beberapa alat bermain, seperti perosotan, dan monkey bar. Dulu taman ini sempat menjadi tempat kegemaran gue saat SD dulu, dimana gue bermain bola hampir setiap sore disana. Selang beberapa tahun, taman ini kemudian menjadi agak terlantar karena kurang diurus sehingga semakin sedikit anak yang bermain kesana.

Anyways, setelah gue membeli rokok gue memutuskan untuk duduk sebentar di taman yang ternyata sudah (lumayan) terawat sekarang. Sambil membuka kotak rokok yang baru gue beli, gue melihat ke atas dan baru menyadari cerahnya langit. Sebagai seseorang yang mengaku kalau langit adalah salah satu objek kesukaannya, gue baru sadar kalau belakangan ini gue sangat jarang mengagumi langit kecuali dari balik kaca mobil, toko kopi, atau balkon rumah.

Kebanyakan waktu, instead of being aware of my surroundings, gue sedang disibukkan oleh kegiatan lain atau sedang melihat kebawah, atau dengan kata lain sedang fokus dengan gadget. Dan secara sadar ataupun tidak, gue melewatkan banyak banget momen.

See, this is the problem with our generation, kita terlalu terfokus melihat kebawah, me-like foto Instagram sambil berpikir “wow, bagus banget viewnya”, when maybe above us, it’s just as beautiful. Walau mungkin tidak seindah foto yang sedang kita lihat di gadget, apalah arti sebuah gambar di layar kaca sementara kita bisa menikmati sesuatu yang lain secara langsung.

Mungkin melihat ke bawah bisa diartikan sedang membaca buku atau mengerjakan sesuatu, tetapi dari pengalaman dan observasi (yang tidak bisa dipercaya) gue, kebanyakan orang yang membaca atau mengerjakan sesuatu akan sesekali beristirahat untuk melihat sekitarnya, sementara bila sedang sibuk dengan handphone, kadang orang bahkan gak sadar kehadiran orang di sampingnya.

Siang itu, sembari menghabiskan sebatang rokok gue duduk di bangku taman yang ternyata cukup rindang untuk menghalang panas sambil mengagumi cerahnya langit.

 I guess we gotta look up more, maybe it’s beautiful above. 

*just my 2 cents 🙂

8 thoughts on “Look Up, It’s Beautiful

  1. wah, iya. setuju banget! 😀 kadang suka mikir “wah, view-nya bagus banget!”, kl lihat ig. padahal langit tinggal lihat ke atas doang. bentuknya jg sama. :)) lol!

    btw, kl kakak suka pemandangan, mampir ke blogku yaa! 😀 aku baru update soal trip-ku akhir-akhir ini.

  2. ah, jadi inget pernah makan sama kolega-kolega dan eksternal, yang emang belum deket banget: habis order makan, semuanya nunduk liatin gawai masing-masing (termasuk aku). yang udah akrab aja sering begitu gimana yang ga akrab2 banget yah hohoho

      1. Ha ha very welcome. . .

        Tau sih, tapi kalo kata gw sih ini pasti ngena ke seenggaknya 50% manusia (under 25) sekarang. *nyengir*

        Dengan berbagai alesan. Kalo gw secara pribadi, alih-alih IG, gw sibuk ngeliatin like, share, dan followers gw di sebuah platform menulis yang gw ikuti. Hi hi hi hi

        Dan kalo gw liet yak. Di angkot, di bus, di KRL, di jalan raya, dimana-mana, emang pada nunduk. . .

        #lahinicommentapanovel #panjangamet #sorryJo #nyengir(lagi!)

A comment is another form of motivation for the writer. Do share what's on your mind!